Translate

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

KESUSASTRAAN

Kesusastraan berasal dari kata ke - susastra - an. Kesusastraan Indonesia dibedakan menjadi 4 (empat) macam:
  1. Prosa, yakni karangan yang bentuknya bebas tetapi bahasanya terikat.
  2. Prosa laris, yakni karangan yang berbentuk paduan antara prosa dan puisi.
  3. Drama, yakni karangan yang berbentuk skenario untuk dipanggungkan atau disandiwarakan.
  4. Puisi, yakni karangan yang berbentuk terikat.

Prosa ada dua macam:
  1. Prosa lama, contohnya: cerita atau dongeng, silsilah dan hikayat.
  2. Prosa baru, contohnya: cerita pendek, novel, esai, biografi, otobiografi, fragmen, dan roman.
Puisi ada dua macam:
  1. Puisi lama, yaitu puisi yang bentuknya terikat oleh aturan-aturan tertentu. Misalnya: sajak dan iramanya.
  2. Puisi baru, yaitu puisi yang lebih mementingkan arti kata isi dan bahasanya.
  3. Unsur pokok dalam pentas drama:
  • Babak, yaitu bagian dari suatu lakon.
  • Adegan, yaitu bagian dari suatu babak.
  • Prolog, yaitu kata pendahuluan sebagai pengantar suatu lakon.
  • Dialog, yaitu percakapan antar pelaku dalam pentas.
  • Monolog, yaitu pentas percakapan seorang pelaku dengan dirinya sendiri.
  • Epilog, yaitu kata penutup yang mengakhiri suatu lakon.
  • Mimik, yaitu ekspresi (gerak-gerik) air muka pelaku untuk memberikan gambaran emosi.
  • Pantomim, yaitu ekspresi anggota tubuh untuk menggambarkan emosi pelaku.
DONGENG

Dongeng termasuk dalam bentuk prosa lama. Dongeng ada 5 macam:
  1. Fabel, yaitu dongeng tentang binatang. Contoh: Si Kancil
  2. Sage, yaitu dongeng yang mengandung unsur-unsur sejarah. Contoh: Damarwulan
  3. Legenda, yaitu dongeng tentang asal-usul suatu tempat.
  4. Mite (Mitos), yaitu yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Contoh: Nyai Lara Kidul (dipercayai ratu laut selatan.
  5. Dongeng yang lucu. Contoh: Abu Nawas.
PANTUN

Pantun termasuk puisi lama Indonesia.
Secara umum, ciri-ciri pantun adalah:
  • Pantun terdiri dari 2 bagian.
  • Bagian pertama merupakan pengantar yang disebut sampiran, sedangkan bagian kedua merupakan isi pantun.
  • Bersajak silang. Jika 4 baris bersajak ABAB.
  • Tiap baris terdiri dari 4 kata.
  • Pantun kilat (karmina) tiap bait terdiri dari 2 baris.
  • Pantun empat seuntai: tiap bait terdiri dari 4 baris.
  • Talibun: tiap bait terdiri dari 6, 8, 10, dan 12 baris dengan bersajak silang abcabc, abcdabcd, abcde, abcde, dan abcdefabcdef.
Menurut isinya, pantun dibedakan menjadi:
  1. Pantun anak-anak
  2. Pantun orang muda
  3. Pantun orang tua
SYAIR

Syair adalah bentuk puisi lama. Kata "syair" berasal dari kata "syu'ur" yang berarti perasaan. Ada pula yang menyebut berasal dari bahasa Arab "syi'r" yang berarti sajak.

Ciri-ciri syair ialah:
  • Tiap bait terdiri dari 4 baris.
  • Tiap baris terdiri dari 4 kata (8-16) suku kata.
  • Bersajak terus (aaaa).
  • Berima 2-2 ( . . / . . )
  • Terdiri dari beberapa bait.
PUISI BARU

Bentuk-bentuk Puisi baru :
  1. Distikhon (sanjak dua seuntai) > setiap bait terdiri dari 2 baris.
  2. Tersina (sanjak tiga seuntai) > setiap bait terdiri dari 3 baris.
  3. Kuantren (sanjak empat seuntai) > setiap bait terdiri dari 4 baris.
  4. Kuin (sanjak lima seuntai) > setiap bait terdiri dari 5 baris.
  5. Sekstet (sanjak enam seuntai) > setiap bait terdiri dari 7 baris
  6. Stanza (sanjak delapan seuntai) > setiap bait terdiri dari 8 baris. Stanza disebut juga oktava
  7. Soneta > soneta berasal dari Italia.
Ciri-cirinya Soneta sebagai berikut:
  • terdiri dari 14 baris, dengan pola
  • (2x4) + (2x3)
  • (2z4) + (1x6)
  • (3x4) + (1x2)
  • (1x8) + (2x3)
  • (1x8) + (1x4)
  • (1x8) + (1x6)
  • 1x14

Minggu, 10 Mei 2009

MENGHASILKAN SASTRA BERKUALITAS DI DALAM PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

PENDAHULUAN

Secara harfiah menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) sistem diartikan sebagai seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk sebuah totalitas. Sementara pengertian sastra sendiri oleh Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan/sebuah kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang dimaksud system sastra adalah segala elemen sastra yang secara bersama-sama saling mengisi dan membentuk sebuah keterpaduan.
Sistem sastra meliputi jenis sastra, cabang ilmu, bentuk sastra, teks dan komunikasi ilmu sastra, ilmu teks, genre sastra, dan unsur-unsur yang membentuk karya sastra baik dari dalam maupun yang dari luar. Untuk mempermudah pemahaman dalam makalah ini, sengaja sistem sastra hanya dibedakan menjadi empat bagian saja. Keempat sistem tersebut adalah (1) cabang ilmu sastra, (2) bentuk sastra, (3) jenis sastra, dan (4) unsur sastra.
Cabang ilmu sastra dapat dibagi lagi menjadi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga cabang ilmu ini saling berkaitan erat sebagai perkembangan dan telaah sastra. Ketiganya adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.
Bentuk sastra dalam makalah ini dibedakan menjadi sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan adalah sastra yang biasanya dituturkan dari mulut ke mulut. Biasanya sastra yang bersifat lisan ini adalah anonim. Artinya, sastra tersebut tidak ada hak milik. Setiap orang bebas menceritakan secara runtutan kronologis maupun menambahi, bahkan mengurangi. Sastra tulis seperti yang kita ketahui sekarang ini telah berkembang menjadi berbagai jenis.

PEMBAHASAN

Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar, yaitu:

Lisan

Bahasa lisan dalam karya sastra merupakan sastra yang mengembangkan ritualitas dalam komunitas itu tersendiri. Untuk itu dalam filosofinya bahwa karya sastra yang dibangun dalam tradisi lisan komunitas menggambaran suatu kekhususan dalam berkarya sastra. Adapun dalam kategorisasi bahasa adalah untuk memberikan sistematika bahasa dalam kontekstualnya adalah (morfologi, fonlogi, semantic, dan sintaksis) semakin berkembang dan majunya dunia dalam ilmu dan teknologi maka semakin maju pula peradaban yang di bentuk dalam berkarya. Baik itu karya sastra lisan dan tulisan maupun dalam berbahasa. Jadi ada kesinambungan antara bahasa dan sastra dalam berkarya.

Tulisan

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat tulis seperti pena atau pensil.
Sejarah sastra Indonesia
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
  • Pujangga lama
  • Sastra “Melayu Lama”
  • Angkatan Balai Pustaka
  • Pujangga Baru
  • Angkatan ’45
  • Angkatan 50an
  • Angkatan 66-7-an
  • Dasawarsa 80-an
  • Angkatan Reformasi
Pujangga Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20an. Pada masa ini karya sastra di Indonesia didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Karya sastra Pujangga Lama antara lain: Hikayat Abdullah, Hikayat Kalila dan Damina.

Sastra “Melayu Lama”

Karya sastra yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 ini berkembang dilingkungan masyarakat Sumatra seperti “Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah Sumatra lainnya,” Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya-karyanya antara lain: Bunga Rampai oleh A.F van Dewall, Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan, Nyai Dasima oleh G. Francis.

Angkatan Balai Pustaka

Jenis sastra sangat bermacam-macam. Dalam makalah ini hanya dibatasi dua, yaitu prosa dan puisi. Hal ini hanya untuk mempermudah penjabaran semata. Sementara menurut KBBI bagian sastra dapat mencangkup prosa, puisi, drama, epik, dan syair.

Unsur sastra meliputi dua aspek, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Adapun perincian unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Begitu pula unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra dari luar. Kedua unsur ini selalu ada di dalam sebuah karya sastra. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Kedua unsur ini pula yang biasanya digunakan untuk menelaah sastra. Unsur-unsur ini pula yang sering menjadi bahan pengajaran di sekolah-sekolah, bahkan untuk soal di Ujian Akhir Nasional (UAN).

Unsur intrinsik dapat berupa tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, dsb. Unsur intrinsik ini membangun satu kesatuan sebuah sastra, khususnya prosa. Unsur-unsur tersebut dapat dianalisis baik secara tersirat maupun tersurat tanpa harus melibatkan pihak pengarang.

Unsur yang untuk mengetahuinya harus melakukan observasi perbandingan dan mempelajari riwayat hidup penulis inilah yang tergolong dalam unsur ekstinsik. Artinya, kalau kita mau menilai sebuah karya sastra, kita juga harus mempertimbangkan konteks penulis atas karya yang dibuatnya. Apa latar belakangnya, bagaimana kehidupan sosialnya, bagaimana lokalitasnya, dsb.

Kedua unsur inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Unsur inipun dibatasi hanya pada unsur intrinsik yang meliputi bahasa dan gaya penceritaan beserta subunsur yang menyertainya. Hal ini disebabkan unsur dan subunsur sastra itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, unsur intrinsik salah satunya. Unsur-unsur inilah yang perlu dikuasai agar seorang penulis tidak hanya pandai berimajinasi saja, melainkan juga menyusun kronologis cerita yang menarik secara teknis.

Secara umum, makalah ini akan membahas bagaimana konotasi bahasa itu berperan dalam sastra dan bagaimana aliran sastra itu menjadi bagian penting untuk diketahui dalam menulis karya sastra. Oleh karena itu, makalah ini mengambil judul “Menghasilkan Sastra Berkualitas: Kajian bahasa dan gaya penceritaam sebagai unsur Intrinsik”.

Konotasi Bahasa

Apabila kita menyinggung mengenai konotasi bahasa, berarti kita masuk ke dalam dua pokok bahasan. Pertama adalah majas atau gaya bahasa dan yang kedua adalah makna. Makna di sini dapat berarti perluasan, penyempitan, peyorasi, ameliorasi, konotasi, denotasi, atau sinestesia. Kita tidak akan membahas banyak hal tentang istilah-istilah tersebut, melainakan hanya akan mencuplik beberapa bagian dari contoh-contoh yang sudah ada.

Ketika kita menulis sebuah prosa atau puisi, secara tidak sadar, kita telah mempelajari berbagai macam gaya bahasa. Gaya bahasa atau sering disingkat majas sebenarnya hanya terdiri dari empat. Keempat majas tersebut adalah majas perbandingan, majas sindirian, majas penegasan, dan majas pertentangan.

Dalam menulis sastra, seorang penulis harus menguasai dan memahami penggunaan majas yang tepat. Menguasai dan memahami dalam hal ini tidak harus menghafalkannya. Hal ini dapat berarti bahwa seorang penulis yang hafal gaya bahasa belum tentu dapat menerapkannya dalam tulisan.

Menguasai dan memahami gaya bahasa, ada baiknya penulis juga mengembangkan gaya bahasa dari yang sudah ada. Hal ini berarti kita harus melakukan eksplorasi kepada gaya bahasa yang sudah ada. Eksplorasi ini dilakukan agar seorang penulis tidak terjebak pada ke-klise-an penggunaan gaya bahasa.

Ambilah contoh gaya bahasa personifikasi. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati , sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti manusia atau benda hidup (Rustamaji, 2005: 105). Gaya bahasa personifikasi merupakan salah satu majas perbandingan yang sering sekali digunakan dalam berbagai tulisan sastra. Memang belum ada survai atau penelitian tentang kuantitas pemakaian majas terbanyak dalam karya sastra, tetapi secara sepintas kita dapat melihat betapa seringnya gaya bahasa personifikasi diaplikasikan ke dalam berbagai karya.

Berikut adalah contoh penggunaan personifikasi

Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah di antara kedua kakiku.

Frase ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah adalah salah satu penggunaan majas personifikasi. Entah sudah berapa puluh personifikasi yang sama untuk ombak. Ombak selalu diperrsonifikasikan bergulung-gulung atau berlari. Seorang penulis harus berani melakukan eksplorasi dan eksperimen terhadap alat yang dimilikinya, yaitu gaya bahasa.

Frase yang menyatakan personifikasi tersebut dapat diubah menjadi majas asosiasi. Adapun pengertian asosiasi adalah membandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Lantas, paragraf di atas dapat disulap mejadi seperti berikut.

Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang terlipat seperti ibu menyisir permukaan keju dengan sendok.

Aliran Sastra

Beberapa aliran dalam puisi
a) Puisi Absurd

pot apa pot itu kaukah pot aku
pot pot pot
yang jawab pot pot pot potkaukah kau itu
yang jawab pot pot pot potkaukah pot aku
potapa potitu potkaukah potaku
pot
“pot” karya Sutardji Calzoum Bachri

b) Puisi Sufi

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apiMu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainMu
“Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi W.M.

c) Puisi Mbeling

Puisi mbeling muncul pada tahun 1970-an. Kata tersebut digunakan oleh Remy Silado. Puisi ini biasanya menekankan kepada kejenakaan. Sekalipun demikian, puisi tersebut terkadang memberikan makan kepada pembacanya.

Beberapa aliran prosa

Seperti halnya dalam seni lukis, seni sastra pun memiliki aliran yang kurang lebih sama, yaitu impresionisme, realisme, naturalisme, romantik, simboloik, dan sebagainya. Seorang pengarang tidak perlu terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Hal ini dikarenakan istilah-istilah tersebut masih diperdebatkan. Namun, sebagai dasar dari pengetahuan, tentang bentuk aliran kesusastraan, maka di bawah ini diberikan beberapa perumusan yang lazim dipakai. Disebutkan juga oleh Mochtar Lubis (1997) bahwa sebutan seperti romantik, realisme, impresionisme terkadang dapat dikaburkan batasan-batasannya seperti romantis-realistis, simbolis-naturalis, dan sebagainya.

Impressionisme

Dalam berbagai cabang kesenian, impressionisme diartikan dalam garis besar sebagai pemberi kesan – kesan panca indera. Mochtar Lubis (1997) merumuskan impressionisme sebagai penjelmaan pikiran, perasaan, dan bentuk-bentuk secara sindirian. Misalnya sebuah cerita pendek (cerpen) yang menulis dengan gaya ini, bisalah disebutkan bahwa cerpen tersebut tidak dengan langsung menjelaskan sepenuhnya isi dan maksud cerita ini, tetapi dari totalitas cerita tersebut orang dapat mengambil kesimpulan apa yang dimaksudkan oleh pengarang. Karangan tersebut dapat berupa kalimat-kalimat yang di dalamnya tidak selesai, dialognya putus-putus, namun secara totalitas, karangan tersebut menunjukkan gambaran yang penuh.

Romantik

Ketika kita menyebutkan kata romantik, tentu apa yang sedang terlintas adalah terang bulan, bunyi angina mengelus dedaunan, ombak pecah di karang, cerita gadis dan jejaka yang berakhir bahagia, dan sebagainya. Memang betul juga, Mochtar (1997) pun mengakuinya. Beliau menyebutkan bahwa aliran romatik adalah cara pengarang yang mewujudkan penghidupan dan pengalaman manusia, lantas meletakkan tekanan yang berat terhadap apa yang lebih baik dan lebih indah.

Realisme

Realisme adalah apa yang dilihat oleh pengarang, di luar itu tidak termasuk realis. Artinya, penulis hanya menunjukkan manifestasi jasmani (materil) dan yang kelihatan dari luar kehidupannya. Boleh dikatakan bahwa penulis hanya melihat simptom, bukan sebab musabab kehidupan.

Dalam realisme, manusia dilukiskan sebagai makhluk yang dikuasai oleh alam kebendaan di sekelilingnya dan memberi reaksi-reaksi terhadap alam kebendaan. Bertolak dari ini, dapat disimpulkan bahwa realisme tidak mempedulikan kenyataan-kenyataan alam penghidupan manusia lain.

Naturalisme

Batas antara realisme dan naturalisme ini sangat kabur. Sama halnya dengan naturalisme pengarang melukiskan dengan cermat apa yang dilihat, dirasa oleh panca indera. Naturalisme meletakkan manusia sebagai makhluk alam, dengan hasrat dan kekurangan-kekurangan manusia.

Dalam KBBI (1989: 610) disebutkan bahwa naturalisme adalah karya seni rupa yang memiliki sifat kebenaran fisik dari alam. Disebutkan juga bahwa naturalisme adalah ajaran yang tidak mengakui kekuatan lain selain alam, apa adanya.
Ekspressionisme

Dalam hubungannya ralisme dan naturalisme ini, disebutkan juga istilah ekspressionisme. Karangan ekspressionisme semua apa yang menjadi tekanan batinnya menyembur dari dalam jiwa pengarang sendiri. Di dalam ekspressionisme, alam benda dikalahkan oleh alam jiwa dan manifestasi kejiwaan-kejiwaan.

Simbolisme

Aliran ini banyak dipakai pada angaktan kesuastraan Jepang. Hal ini dikarenakan pada saat itu, segala bentuk perjuangan (melalui sastra) tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, para pengarang mencoba berjuang dengan menggunakan simbol-simbol.
Sebuah karangan yang menggunakan simbol, acapkali simbol tersebut diulang-ulang. Disebutkan pengarang, lantas di dorongkan ke tengah-tengah perhatian pembaca. Namun, bisa juga simbol itu sesuatu yang dikandung di dalam keselauruhan cerita.

KESIMPULAN

Secara umum, sistem sastra dapat diterjemahkan menjadi segala unsur yang bertalian dengan sastra dan menunjang satu sama lain untuk keutuhan sastra itu sendiri. Adanya kesinambungan antara bahasa dan sastra dalam berkarya. Untuk menghasilkan sastra yang berkualitas didalam perkembangan sejarah sastra di Indonesia khususnya dan dunia sastra pada umumnya, disimpulkan bahwa seorang penulis tidak perlu mempelajari “teori sastra” terlebih dahulu sebelum dirinya memiliki produk sastra. Kebalikannya, pengarang yang sudah menghasilkan karya, lambat laun, dirinya akan menguasai apakah “ilmu sastra” itu. Lantas, pengarang tersebut akan mengidentifikasikan karya-karyanya dengan teori yang ada. Dari sinilah, tanpa sengaja, pengarang tersebut dapat belajar tentang “teori sastra” dan secara perlahan akan menguasai “bagaimana sistem sastra secara keseluruhan itu”.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya (hal.87-92). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Pradopo, Joko Rachmat. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional. 2000. Buku Praktis Bahasa Indonesia: 2. Jakarta: Pusat Bahasa.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kamis, 19 Februari 2009

JEJAK LANGKAH SASTRA INDONESIA

JEJAK LANGKAH SASTRA INDONESIA
oleh: Maman S. Mahayana


Sastra adalah roh kebudayaan. Ia lahir dari proses yang rumit kegelisahan sastrawan atas kondisi masyarakat dan terjadinya ketegangan atas kebudayaannya. Sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial. Ia mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu. Ia dipandang juga memancarkan semangat zamannya. Dari sanalah, sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan, ideologi, dan harapan-harapan individu yang sesungguhnya merepresentasikan kebudayaan bangsanya. Dalam konteks itulah, mempelajari sastra suatu bangsa pada hakikatnya tidak berbeda dengan usaha memahami kebudayaan bangsa yang bersangkutan. Dengan perkataan lain, mempelajari kebudayaan suatu bangsa tidak akan lengkap jika keberadaan kesusastraan bangsa yang bersangkutan diabaikan. Di situlah kedudukan kesusastraan dalam kebudayaan sebuah bangsa. Ia tidak hanya merepresentasikan kondisi sosial yang terjadi pada zaman tertentu, tetapi juga menyerupai pantulan perkembangan pemikiran dan kebudayaan masyarakatnya.

***
Kesusastraan Indonesia atau kesusastraan bangsa mana pun juga di dunia ini pada dasarnya merupakan potret sosial budaya masyarakatnya. Ia berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa itu. Ia merupakan refleksi kegelisahan kultural dan sekaligus juga merupakan manifestasi pemikiran bangsa yang bersangkutan. Periksa saja perjalanan kesusastraan Indonesia sejak kelahirannya sampai kini.

Pada zaman Balai Pustaka (1920—1933), misalnya, kita melihat, karya-karya sastra yang muncul pada saat itu masih menunjukkan keterikatakannya pada problem kultural ketika bangsa Indonesia berhadapan dengan kebudayaan Barat. Tarik-menarik antara tradisi dan pengaruh Barat dimanifestasikan dalam bentuk tokoh-tokoh rekaan yang mewakili golongan tua (tradisional) dan golongan muda (modern). Tarik-menarik itu juga tampak dari tema-tema yang diangkat dalam karya sastra pada masa itu. Problem adat yang berkaitan dengan masalah perkawinan dan kedudukan perempuan hampir mendominasi novel Indonesia pada zaman itu.

Dalam puisi, problem kultural itu tercermin dari masih kuatnya keterikatan pada bentuk kesusastraan tradisional, seperti pantun atau syair. Meskipun Muhammad Yamin memperkenalkan bentuk soneta (: Barat) dalam puisinya, ia sebenarnya masih menggunakan pola pantun dalam persamaan persajakan (bunyi) setiap lariknya. Sementara itu, dilihat dari tema-tema yang diangkatnya, tampak ada usaha merumuskan sebuah konsep kebangsaan, meskipun yang dikatakan Muhammad Yamin masih dalam lingkup Pulau Sumatera.

Dalam bidang drama, Rustam Effendi dalam Bebasari (1926) secara simbolik menawarkan perlawanan kepada bangsa asing (Belanda). Penculikan Sita (Ibu Pertiwi) oleh Rahwana (kolonial) pada akhirnya harus dimenangkan oleh perjuangan gigih seorang Rama (pemuda Indonesia). Jadi, secara simbolik, drama ini sudah mempersoalkan konsep kebangsaan dan pentingnya perjuangan melawan penjajah.

Sementara itu, di pihak yang lain, secara ideologis, karya sastra, terutama novel-novel yang diterbitkan Balai Pustaka memperlihatkan betapa novel-novel yang diterbitkan lembaga itu sejalan dengan ideologi pemerintah kolonial Belanda. Balai Pustaka sebagai lembaga penerbitan yang dikelola pemerintah kolonial Belanda, tentu saja mempunyai kepentingan ideologis. Oleh karena itu sangat wajar jika novel-novel yang diterbitkan Balai Pustaka mengusung kepentingan ideologi kolonial.

***
Pada zaman Pujangga Baru (1933—1942), tarik-menarik antara Barat dan Timur tampak tidak hanya pada perdebatan Polemik Kebudayaan, tetapi juga dalam usaha mereka menerjemahkan gagasan itu dalam karya-karyanya. Maka kita dapat melihat puisi-puisi Amir Hamzah cenderung mengungkapkan nafas sufisme dan kosa kata Melayu kuno (Timur). Ia juga banyak menerjemahkan khazanah kesusastraan Timur, khasnya India. Baghawad Gita dan beberapa terjemahan puisi Tiongkok adalah satu contoh usahanya memperkenalkan khazanah kesusastraan Timur itu. Berbeda dengan Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana berteriak lantang menganjurkan agar bangsa Indonesia meniru dan berorientasi ke Barat. Hanya dengan itu, menurutnya, bangsa Indonesia akan mencapai kemajuan. Salah satu novel Sutan Takdir Alisjahbana yang tampak mengusung gagasannya mengenai semangat Barat adalah Layar Terkembang.

Pada masa itu, puisi Indonesia sudah mulai jauh meninggalkan gaya pengucapan pantun atau syair. Masuknya pengaruh romantisisme Barat –melalui Angkatan ‘80 (De Tachtiger Beweging) Belanda— diterima dengan segala penyesuaiannya. Puisi tidak hanya menjadi alat mengangkat dunia ideal, tetapi juga menjadi sarana penyadaran akan kebesaran masa lalu. Romantisisme Pujangga Baru lahir bukan karena kegelisahan atas merosotnya nilai-nilai rohani, spiritualitas, dan terjadinya eksplorasi kekayaan alam, melainkan sekadar mencari bentuk pengucapan baru dalam puisi Indonesia.

***
Perubahan drastis dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik di Indonesia, terjadi selepas bala tentara Jepang masuk menggantikan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Dalam masa pemerintahan pendudukan Jepang (Maret 1942—Agustus 1945), segala potensi diarahkan untuk kepentingan perang. Maka, kesusastraan pun dijadikan alat propaganda pemerintah pendudukan Jepang untuk mengobarkan semangat Asia Timur Raya.

Kehidupan kesusastraan Indonesia pada masa itu sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik, ekonomi. Ambruknya kehidupan ekonomi pada masa itu yang menempatkannya berada pada titik terendah, ikut pula mempengaruhi kerja kreatif para sastrawan. Maka membuat karya yang lebih cepat mendapatkan uang menjadi pilihan yang lebih rasional. Itulah sebabnya, ragam puisi dan cerpen pada zaman Jepang itu jauh lebih banyak dibandingkan novel. Demikian juga penulisan naskah drama menempati posisi yang sangat baik mengingat propaganda melalui pementasan sandiwara (drama) dianggap lebih efektif. Itulah sebabnya, pemerintah pendudukan Jepang menyediakan banyak panggung atau gedung pementasan sebagai sarana penyebarluasan propaganda melalui pementasan-pementasan drama.

***
Selepas Proklamasi, 17 Agustus 1945, kesadaran akan semangat kebangsaan dan pentingnya menyongsong dunia baru, menjadi semacam trend yang kemudian diwujudkan ke dalam karya-karya sastra yang terbit pada masa itu. Chairil Anwar muncul dengan puisi-puisinya yang penuh vitalitas, bersemangat, dan menggelora. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar menerbitkan Tiga Menguak Takdir (1949) yang menunjukkan penolakan terhadap semangat Pujangga Baru. Menguak Takdir dapat dimaknai sebagai pisau bermata dua: (1) mengusung semangat perjuangan, bahwa nasib bangsa sangat bergantung pada usaha untuk tidak menyerah pada keadaan, pada nasib, pada takdir. (2) menolak segala gagasan yang dianjurkan Sutan Takdir Alisjahbana, yaitu (i) kebudayaan bangsa harus ditentukan bukan oleh Timur—Barat, melainkan oleh diri sendiri. “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri,” (ii) bentuk pengucapan dalam puisi tidak perlu lagi dengan bahasa yang mendayu-dayu dan berbunga-bunga, tetapi dengan bahasa sehari-hari yang lugas dan langsung. Chairil Anwar yang menjadi tokoh kunci Angkatan 45 seperti meninggalkan jejak yang begitu kuat dalam peta puisi Indonesia. Pengaruhnya terus bergulir sampai periode berikutnya.

Dalam bidang prosa –novel dan cerpen—pengalaman pahit zaman Jepang dan trauma kegetiran perang kemerdekaan (1945—1949) telah menjadi sumber ilham bagi prosais Indonesia. Maka, Idrus mengangkat kegetiran pada zaman Jepang, Pramoedya Ananta Toer mengeksplorasi pengalamannya semasa menjadi gerilyawan dan berjuang melawan tentara Belanda. Demikian juga Mochtar Lubis, Balfas, Toha Mohtar, Subagio Sastrowardojo, Nugroho Notosusasto, dan beberapa novelis Indonesia lainnya yang dibesarkan dalam gejolak revolusi, mengangkat pengalaman perang sebagai tragedi kemanusiaan yang amat getir, dan di pihak lain digunakan juga sebagai alat untuk menumbuhkan semangat kebangsaan.

Memasuki dasawarsa tahun 1950-an kesusastraan Indonesia berada dalam situasi yang amat semarak. Selain tentang kisah peperangan, juga muncul semangat kedaerahan dan nafas filsafat eksistensialisme. Sitor Situmorang, Nasjah Djamin, dan teristimewa Iwan Simatupang adalah beberapa nama yang sangat bersemangat memasukkan filsafat eksistensialisme ke dalam karya-karyanya. Iwan Simatupang kemudian menjadi sastrawan penting ketika novel-novelnya diterbitkan selepas peristiwa tragedi 30 September 1965.

Masa suram kesusastraan Indonesia dan umumnya kehidupan kebudayaan Indonesia terjadi pada paroh pertama dasawarsa tahun 1960-an (1961—1965). Ketika itu, slogan “Politik adalah Panglima” telah menempatkan kehidupan politik di atas segala-galanya. Kesusastraan dan kebudayaan kemudian digunakan sebagai alat perjuangan politik. Pro dan kontra pun terjadi. Terbelahlah sastrawan Indonesia ke dalam beberapa kubu yang mengerucut menjadi dua kubu besar, yaitu golongan sastrawan yang mengusung semangat humanisme universal dan golongan sastrawan yang mengusung sastra dan kebudayaan sebagai alat perjuangan politik dengan penekanan pada sastra yang berpihak pada rakyat. Kelompok pertama mendeklarasikan sikapnya melalui apa yang disebut “Manifes Kebudayaan” dan kelompok kedua tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berporos pada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kehidupan kesusastraan dan kebudayaan dalam masa lima tahun itu benar-benar memasuki situasi yang buruk. Perbedaan pendapat dan ideologi menjadi pertentangan fisik dan serangkaian teror. Pelarangan Manifes Kebudayaan oleh Presiden Soekarno menandai tersingkirnya kelompok Manifes dalam berbagai aspek kehidupan kebudayaan, meskipun mereka terus bergerak melakukan perlawanan.

Pecahnya peristiwa 30 September 1965 yang memicu gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa sekaligus menghancurkan dominasi PKI dalam kehidupan politik nasional. Lekra sebagai underbouw PKI tentu saja ikut menjadi korban. Kelompok sastrawan pendukung Manifes Kebudayaan seperti keluar dari lubang kematian. Mereka kemudian mengusung karya-karya protes. Taufiq Ismail sebagai tokoh kunci gerakan ini menyuarakan semangat perlawanannya melalui puisi. Penyair lain, seperti Bur Rasuanto, Slamet Sukirnanto, Wahid Situmeang, adalah beberapa sastrawan yang ikut menyuarakan semangat perlawanan itu. H.B. Jassin kemudian menyebut gerakan para sastrawan itu sebagai Angkatan 66.

Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa itu berhasil mencapai perjuangannya dengan pembubaran PKI dan kemudian berdampak pada kejatuhan Presiden Soekarno. Praktis PKI beserta para pendukungnya, berada dalam posisi sebagai pecundang. Kalah dalam perjuangan politiknya. Dan Pemerintah yang menyebut dirinya sebagai Orde Baru melakukan pembersihan. Sastrawan yang tergabung dalam Lekra dengan sendirinya menjadi pihak yang kalah. Mereka ditangkap, dipenjara, dan tokoh-tokoh pentingnya dibuang ke Pulau Buru.

***
Babak baru muncul dalam perjalanan kesusastraan Indonesia. Trauma terhadap campur tangan politik dalam kebudayaan, khususnya kesusastraan, telah memberi kesadaran, bahwa kesusastraan, kesenian, dan secara keseluruhan, kebudayaan, tidak boleh dimasuki kepentingan politik. Kehidupan kebudayaan harus dipisahkan dari kehidupan politik. Tak ada tempat lagi bagi politik untuk masuk dan mengganggu kehidupan kesusastraan. Anggapan bahwa muatan politik hanya akan mengganggu estetika berkesenian menjadi semacam label penting dalam kehidupan kesenian dan lebih khusus lagi, kesusastraan Indonesia. Lalu, bagaimana pengaruhnya terhadap kesusastraan Indonesia ketika politik dianggap tidak berhak lagi memasuki wilayah kesenian dan kesusastraan.

Selepas tahun 1965 dan terutama memasuki pertengahan dasawarsa 1970-an, sastrawan Indonesia seolah-olah memperoleh saluran kebebasan yang lebih luas. Di pihak lain, mereka menolak campur tangan politik. Maka, usaha mengeksploitasi estetika yang berada jauh di luar politik adalah penggalian pada tradisi, pada sumber kekayaan khazanah kesusastraan sendiri. Di sinilah, kisah-kisah dunia jungkir-balik dalam dongeng-dongeng rakyat menjadi salah satu sumber kreativitas mereka. Selain itu, unsur-unsur mistik Islam—Jawa, sufisme, dan khazanah puisi rakyat, disadari sebagai kekayaan tradisi yang dapat dikemas atau diselusupkan ke dalam bentuk puisi yang lebih modern. Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, berhasil memanfaatkan mantera untuk kepentingan estetika puisinya yang mengandalkan kemerduan bunyi. Melalui kredonya yang menolak makna dalam kata, Sutardji menjadi salah satu tokoh kunci penyair Indonesia dasawarsa itu. Arifin C. Noer –dalam drama—berhasil pula memanfaatkan dongeng-dongeng dan teater rakyat, seperti ketoprak dan tanjidor, menjadi unsur penting dalam dramanya. Sementara itu, Kuntowijoyo yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi kejawen, tetapi menyerap juga pengaruh tasawuf dan filsafat Barat (eksistensialisme), berhasil melahirkan sebuah novel, Khotbah di Atas Bukit, yang memperlihatkan percampuran pengaruh-pengaruh itu.

Dasawarsa 1970-an –yang kemudian disebut sebagai Angkatan 70-an— adalah masa berlahirannya karya-karya eksperimentasi. Iwan Simatupang lewat empat novelnya, Merahnya Merah, Ziarah, Kering, dan Kooong, tampil sebagai salah seorang maestro novel kontemporer Indonesia. Sejumlah nama lain, tentu saja masih panjang berderet. Tetapi secara umum, mereka mempunyai semangat yang sama, yaitu “kembali ke akar, kembali ke sumber.”

Memasuki dasawarsa 1980-an sampai pertengahan 1990-an, kesusastraan Indonesia seperti bergulir tanpa gejolak menghebohkan, tanpa hiruk-pikuk. Sejumlah karya memang masih tetap lahir dengan daya kejut yang cukup kuat. Ahmad Tohari lewat trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, menyadarkan kita akan dunia wong cilik dan orang-orang yang terpinggirkan. Umar Kayam dalam Para Priyayi mengukuhkan kekayaan kultur Jawa. Kejutan lain muncul ketika Pramoedya Ananta Toer memperkenalkan tetraloginya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat novel yang dikatakannya sebagai novel Pulau Buru itu konon ditulis Pram saat ia berada dalam tahanan di Pulau Buru.

Kejutan lain yang juga penting terjadi menjelang berakhir abad ke-20. Ayu Utami melalui novelnya, Saman (1998) mengejutkan banyak pihak terutama keberaniannya dalam mengungkapkan persoalan seks. Selepas itu, bermunculan sastrawan wanita yang dalam beberapa hal justru lebih berani dibandingkan Ayu Utami. Sebutlah misalnya, Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold, 2002), Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet! 2003, dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) 2004), Maya Wulan (Swastika, 2004).

Jauh sebelum Ayu Utami, sejumlah sastrawan wanita sesungguhnya telah menunjukkan prestasi yang cukup penting, seperti Nh Dini, Titis Basino, Marianne Katoppo, Leila Chudori, Ratna Indraswari, Abidah El-Khalieqy, Helvy Tiana Rosa, atau Dorothea Rosa Herliani. Meskipun begitu, kemunculannya makin semarak justru selepas Ayu Utami itu. Boleh jadi, kondisi itu dimungkinkan oleh runtuhnya kekuasaan Orde Baru yang ketika itu banyak melakukan represi. Maka, begitu ada saluran pembebasan, berlahiranlah pengarang-pengarang wanita dengan keberanian dan kekuatannya masing-masing. Tercatat, beberapa di antaranya, Fira Basuki, Anggie D. Widowati, Naning Pranoto, Ana Maryam, Weka Gunawan, Agnes Jesicca, Ani Sekarningsih, Ratih Kumala, Asma Nadia, Nukila Amal dan Dewi Sartika.

Yang menarik dari sejumlah karya yang ditulis para pengarang wanita ini adalah usahanya untuk tidak lagi terikat oleh problem domestik. Karya-karya mereka tidak lagi berbicara tentang problem rumah tangga –suami-istri, melainkan problem seorang perempuan dalam berhubungan dengan masyarakat kosmopolitan. Maka, di sana, tokoh-tokoh wanita yang menjadi pelaku utamanya, seenaknya bergentayangan ke mancanegara atau berhubungan dengan masyarakat dunia.

***
Demikianlah, jejak langkah sastra Indonesia ini lebih merupakan tinjauan selayang pandang tentang perjalanan kesusastraan Indonesia. Terjadinya perubahan sosial-politik-ekonomi-budaya, secara langsung ikut mempengaruhi gaya pengucapan dan tema-tema yang diangkatnya. Dengan begitu, perjalanan sastra Indonesia sesungguhnya merepresentasikan perkembangan pemikiran atas terjadinya perubahan sosial yang terjadi di negeri ini. Dalam hal itulah, sastra laksana potret sosial dan di sana tercermin pula semangat zamannya.

***
Apa yang terjadi dalam sastra Indonesia, sangat mungkin terjadi pula dalam perjalanan sastra Korea. Lihat saja, karya-karya para pengarang Korea yang menyebut diri sebagai “Aliran Sastra Pascaperang” seperti Kim Tongni, Kwon Taeung, Han Musuk, Yu Chuhyon, Sonu Hwi, dan beberapa nama lain. Kisah-kisah tentang perang sebagai tragedi kemanusiaan, mengingatkan kita pada karya-karya sastrawan Indonesia tahun 1950-an yang juga mengangkat tema-tema kegelapan akibat perang. Pertemuan ayah—anak (Sokkyu—Pong Ho) dalam karya Kim Tongni, sungguh seperti kerinduan Tamin pada keluarganya dalam novel Pulang karya Toha Mohtar. Demikian juga karya Kwon Taeung tentang kisah Si Bongkok dari Seoul yang coba memanfaatkan suasana kacau akibat perang dengan “menipu” perempuan Ahyondong, sangat mungkin banyak terjadi di Indonesia ketika hidup dan mati berada dalam garis yang tipis. Sebagian besar karya “Aliran Sastra Pascaperang” yang mengangkat sisi lain tragedi perang menunjukkan adanya banyak persamaan ketika ia berbicara tentang perang yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Secara umum, ada tiga tema besar yang diangkat Aliran Sastra Pascaperang yang masalahnya bersumber pada peristiwa perang dengan segala akibatnya. Pertama, sastrawan yang dibesarkan atau terlibat langsung dalam perang saudara itu melihat bahwa peristiwa itu telah meninggalkan trauma psikologis yang dahsyat. Bagaimana mungkin bangsa Korea bisa terbelah dan tega saling berbunuhan sesama saudara hanya karena di belakangnya ada perbedaan ideologi. Perang menjadi sebuah pengalaman yang begitu mengerikan yang kemudian hanya meninggalkan satu pertanyaan besar yang tidak dapat dipahaminya: Mengapa perang harus terjadi dalam sebuah keluarga bersaudara, sesama bangsa, sesama manusia.

Kedua, bagaimanapun juga, penyebab utama pecahnya perang Korea dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan ideologi. Komunisme telah menunjukkan dirinya sebagai sebuah ideologi yang ekstrem dan radikal. Dan kekejaman komunisme telah menjadi lembaran hitam yang tidak mudah dilupakan. Maka kekejaman Komunis dengan berbagai akibat yang ditimbulkannya menjadi tema yang banyak digarap sastrawan Aliran Sastra Pascaperang.

Ketiga, perang Korea tidak hanya telah membawa korban –harta benda, jiwa-raga— tetapi juga menghancurkan banyak anggota keluarga. Perang telah memisahkan segenap anggota keluarga, menghapus segala harapan ideal di masa depan. Yang muncul kemudian adalah nada pesimis. Maka, perang menjadi simbol kegelapan dan sikap pesimis dalam nenatap masa depan.

Begitulah, perang bagi bangsa Korea menjadi peristiwa besar dan kiamat kecil yang tidak mudah dilupakan begitu saja. Jejak kegetirannya telah meninggalkan trauma psikologis yang terus menghantui bangsa itu dalam masa yang panjang dan entah sampai kapan.

Di luar persoalan perang yang kemudian menjadi tema penting dalam sejumlah karya aliran ini, ada style khas yang tampak mendominasi kecenderungan gaya pengucapannya, yaitu kecenderungan mengakhiri cerita secara terbuka (open ending). Boleh jadi masalahnya berkaitan dengan filsafat hidup bangsa Korea yang menempatkan kehidupan duniawi lebih penting daripada kehidupan akhirat, carpe diem: ambillah kesempatan selagi ada, raihlah prestasi selagi hidup. Sebuah dinamika hidup yang mendorong kerja untuk urusan di dunia menjadi lebih penting daripada kerja untuk urusan akhirat. Maka, kita dapat memahami sebuah peribahasa Korea yang berbunyi: “Lebih suka pupuk di ladang daripada keindahan di negeri hayal.” Maknanya: bahwa kerja dalam kehidupan ini, betapapun sengsaranya, jauh lebih penting dan lebih bermakna daripada surga yang hanya berada dalam angan-angan. Bertindak menjadi lebih penting daripada berhayal. Maka, bekerjalah, apa pun hasilnya.

***

Salah satu hal yang menarik dari sastra Korea ini adalah adanya sejumlah persoalan yang ternyata terasa begitu dekat dengan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Perang Kemerdekaan, dan sebelum itu kekejaman bangsa Jepang, serangkaian pemberontakan, dan puncaknya terjadi pada tragedi 30 September 1965, juga merupakan peristiwa masa lalu bangsa Indonesia yang hakikatnya tidak berbeda dengan Perang Korea. Segala perang, siapa pun yang menjadi musuhnya, tetaplah akan meninggalkan jejak kepedihan ketika kita berbicara tentang kemanusiaan. Dengan demikian, ketika sastra berbicara tentang perang, tentang tragedi kemanusiaan, ketika itu pula nilai-nilai kemanusiaan universal tidak dapat disekat oleh batas geografi, sukubangsa, agama, ras, dan budaya.

Perkembangan sastra Korea dewasa ini, niscaya tidak lagi terpaku pada masalah perang. Pasti ia berbicara tentang banyak hal, meskipun muaranya tetap sama: manusia dan kemanusiaan. Kesusastraan Indonesia, juga berkembang sesuai dengan perjalanan sejarah dan dinamika perubahan masyarakatnya. Dalam banyak hal, sastra Indonesia dan sastra Korea, niscaya mengandung banyak perbedaan. Tetapi, manakala ia berbicara tentang manusia dan kemanusiaan, ia tidak lagi terikat oleh batas geografi, sukubangsa, agama, ras, dan budaya. Keduanya –sastra Indonesia dan sastra Korea—tetap akan menjadi sebuah dunia yang asing, jika kedua bangsa ini tidak berusaha mendekati dan memahaminya. Oleh karena itu, kerja sama kebudayaan, khususnya kesusastraan, dengan berbagai bangsa dapat menciptakan sebuah jembatan yang memungkinkan kedua bangsa itu dapat saling memahami kebudayaan masing-masing. Dalam konteks itu, kehadiran delegasi pengarang. Korea di Indonesia dapat dimaknai sebagai salah satu usaha membangun jembatan yang memungkinkan bangsa Korea dan bangsa Indonesia dapat meningkatkan persahabatan-persaudaaran kedua bangsa. Dari sana, terbuka jalan lempang untuk memahami kebudayaan masing-masing.
Semoga!

---------------------
* Tulisan ini disampaikan pada acara CERAMAH DAN SIMPOSIUM SASTRA KOREA, pada tanggal 21 Juni 2005, di Kampus FIB UI Depok. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Korea.
** Penulis adalah kritikus sastra dan dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI